Nama: Penny Septina
Nip : H14100042
Laskar : 6
Saya pernah mendengar cerita ini dari seorang sahabat saya. Cerita yang cukup menarik. Cerita ini memberikan peringatan sekaligus inspirasi. Saya menanyakan pada sahabat saya, darimana ia mendapatkan cerita ini. Dan ternyata ia mendapatkannya dari sebuah buku psikologi tentang masa perkuliahan.
Saya akan berusaha menceritakan cerita ini kembali. Tetapi dalam sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang si pelaku, yaitu seorang asisten dosen.
Alkisah..
“Pada tahun terakhir kuliah aku menjadi asisten dosen. Salah satu tugasku adalah membagikan dan mengawasi ujian. Mata kuliahnya adalah mata kuliah tingkat satu, yang memiliki lebih dari lima ratus mahasiswa.
Mahasiswa diberi empat ujian selama satu semester dan satu ujian akhir kumulatif pada akhir semester. Untuk mengelola kelima ratus mahasiswa tingkat satu ini, aku harus menciptakan peraturan. Peraturannya adalah sebagai berikut. Ujian dimulai tepat pukul sembilan pagi. Mahasiswa mengambil lembar soal dan lembar jawaban dan bebas mengambil kursi. Mereka punya waktu tepat lima puluh menit untuk mngerjakan ujian. Pada tepat pukul 09.50, aku aka mengatakan “letakkan alat tulis”. Semua orang harus berhenti menulis secepatnya, meletakkan alat tulis, berjalan kedepan ruangan dan menyerahkan lembar ujian. Orang yang tidak meletakkan alat tuls pada pukul 09.50 dan menyerahkan lembar jawaban akan langsung mendapat nilai F, tak terkecuali.
Saat ujian akhir tiba, mahasiswa sudah begitu terdoktrinasi ke dalam sistem ini sehingga hanya perlu mengumunkan satu peringatan pada pukul 09.40. lalu pada pukul 09.50, aku menyalakkan perintah terakhirku untuk semester itu “sudah pukul 09.50, letakkan alat tulis, kalian sudah tahu peraturannya” dan Bum! Semua alat tulis diletakkan, seperti biasanya. Semua 500 murid bediri! – atau hanya 499? Ya ternyata begitu. Semua orang berbaris diantara kursi kecuali seorang pemuda yang licik-pemuda yang duduk jauh di bagian belakang.
Ia terus menulis dan menulis. Aku melihatnya disana. Tapi ia mengira aku tak melihatnya. Sekali lagi aku membentak “semuanya, letakkan alat tulis”. Tapi ia terus menulis, coba mengalahkan sistemku. Berani-beraninya! Aku akan hajar dia. Pada pukul 09.58, aku mulai menyusun tumpukan lembar jawaban, aku melihat pemuda itu berlari menuruni tangga untuk menyerahkan ujiannya ke meja.
“ini pak, lembar jawaban saya!. Ia terengah-engah
“saya tak bisa menerima lembar jawabanmu. Kau tahu peraturannya. Letakkan alat tulis pada pukul 09.50, kalau tidak, langsung dapat F”.
“tolong pak, terimalah lembar jawaban saya”
“Tidak! Kau tahu saya tak bisa. Ini melanggar peraturan”
“tolong, tolong terima saja, saya hampir tak lulus. Orang tua saya pasti akan membunuh saya kalau saya harus mengulang mata kuliah ini. Ambil saja, tak kan ada yang tahu”. Sebutir air mata mengalir di pipinya.
“maaf, maaf saya tak bisa” aku kembali mengurusin tumpukan, menyusunya satu persatu. Pemuda itu berbalik dan pergi dengan bahu merosot.
Dengan membawa tumpukan 499 lembar ujian, aku memandang mahasiswa itu menaiki tangga ke pintu keluar. Sekitar setengah jalan, kulihat ia berbalik dengan berani, dengan penuh percaya diri, mungkin agak sombong, ia segera berlari menghampiriku.
Ia bertanya padaku perlahan “pak, bapak tahu tidak siapa saya?”
“Tidak, dan saya tidak peduli”
“Bapak yakin, bapak tidak kenal saya?” Ia bertanya dengan rasa percaya diri yang lebih besar. Aku mulai agak cemas. Apakah ia anak rektor? Aku bikin masalah apa?
“tidak, maaf saya tidak kenal” kataku dengan sedikit ragu
“bapak yakin, 100% yakin, tidak mngenal saya?”
“untuk terakhir kalinya, tidak, saya tidak tahu siapa kamu”
“bagus!” dan ia menjejalkan lembar jawabannya ke tengah tengah tumpukkan dan berlari keluar
……”

Kembali kepada saya. Saya harus mengatakan bahwa cerita ini mengandung unsur pembelajaran bagi mahasiswa yang ingin menjadi asisten dosen. Jangan samapi tertipu oleh tipuan sepeerti itu. Tapi disisi lain memberikan inspirasi kepada kita sebagai mahasiswa dalam menghadapi ujian. Saya bercanda, Tidak, tidak tindakan seperti ini tidak boleh dicontoh yaa

Nama: Penny Septina

NRP: H14100042

Laskar: Laskar 6

Sekarang saya menempa ilmu di Institut Pertanian Bogor. Mungkin kamu tidak, atau mungkin saja belum merasakan apa yang sudah saya rasakan tentang pengalaman dan pemikiran pertama saya ketika saya menetap di asrama TPB IPB. Saya ingin berbagi tentang hal tersebut.

Semua orang tahu, bahwa saya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. saya bahkan tidak bisa mencari dari pengalaman masa lalu saya untuk memberikan perbandingan akan apa yang akan saya lakukan sekarang. saya juga tak merasa lebih baik, ketika mengetahui bahwa orang lain juga melakukannya, tiba tiba saya harus menerima perlakuan yang saya pikir belum waktunya untuk saya jalankan ini, seakan akan perilaku ini logis untuk saat ini.

Di asrama, saya harus mencuci sendiri, mengenakan sendal di kamar mandi dan lain sebagainya. saya seakan akan sedang mengembara, hidup sendiri mungkin untuk pertama kali. Masa anak-anak telah berakhir, seakan – akan berakhir pada saat masa SMA berakhir. Saya dikelilingi oleh orang – orang yang tidak atau belum saya kenal, mereka berasal dari latar belakang yang amat sangat berbeda, terbentang dari sabang sampai merauke. Saya anak satu satu nya di keluarga. Sebuah kejutan ketika saya mengetahui orang tua saya mengizinkan saya untuk meneruskan study di tempat yang cukup jauh dari rumah. Tapi toh ini sudah terjadi.

Sebelumnya saya berpikir, kamar asrama yang akan saya tempati mestinya berukuran sama dengan kamar yang saya lihat saat pertama kali berkunjung ke website ipb, tapi saya mengetahui nyatanya kamar ini lebih lecil, lebih dingin, dan lebih tidak mengenakkan daripada yang saya lihat di internet bersama mama saya. Ketika pertama kali masuk, saya hanya melihat seoonggok tas di atas tempat tidur yang sudah ditandai milik seorang teman sekamar saya bernama Haryunigtias Triwahyuni (Dita) (itupun saya tahu dari kertas yang di tempel diatas empat tidur tersebut, karena saya memang belum bertemu dengannya). Kamar itu A1/110 terlihat tidak terjamah manusia, karena tidak ada barang apapun kecuali barang yang memang sudah seharusnya ada disana, seperti tempat tidur kapuk, lemari, dsb. Kamar itu juga terlihat sangat berdebu.

Saya memutuskan untuk membeli sapu untuk membersihkan tempat itu (lama kelamaan saya akan menyebut itu kamar saya). Ketika saya sedang membersihkan tempat itu bersama mama saya, dan berusaha membuat tempat itu lebih “hidup”, pintu di ketuk dan masuklah seorang gadis berkerudung bersama ibunya. Yang pasti gadis itu tak pernah saya temui sebelumnya, dan gadis itu akan tinggal bersama saya sepanjang tahun. Waww mengejutkan bukan, kami berasal dari daerah yang sudah pasti berbeda. Mulai bermunculan banyak ketakutan di pikiran saya (yang mungkin juga dirasakan oleh semua Mahasiswi baru di asrama atau bahkan mungkin dirasakan oleh gadis itu juga). Saya berkenalan dengannya, rasanya saat itu terasa sangat asing, Vallin Aulia Ratnafari, nama gadis itu. Ia mengatakan tak akan tinggal di asrama dulu. Karena masih ada urusan yang belum diselesaikannya di daerah asalnya, subang. Maka ia pun pulang ke subang bersama ibunya. Saya pun ditinggal sendiri, lagi.

Berselang beberapa jam. Ketukan kedua berbunyi. Datanglah seoang gadis keempat, bernama Yudicy Amelia. Dan yang lebih mngejutkan lagi, dia berasal dari jambi. Waww jauh sekali. Muncul keingin tahuan dari diri saya untuk mengenalnya lebih jauh. Ia masih belum bisa memastikan akan tinggal di asrama atau tidak malam itu. Karena takut tak ada teman (dita masih belum muincul saat itu) saya memustuskan untuk menginap di rumah saudara saya di bogor.

Hari kedua saya kembali ke asrama dan akhirnya bertemu dengan dita, di luar dugaan kami 1 kelas B.27 tetapi ia mendapat matrikulasi kimia dan saya matematika.

Hari-hari pertama bagaikan mimpi. Kamar mandi menjadi lahan uji untuk saya menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Saya terkadang melirik iri di lorong, bertanya – tanya siapa yang bisa menggantikan sahabat sahabat saya yang saya tinggal di kampung halaman. Saya menangis sampai tertidur. Dan menemukan diri saya menghitung hari hingga weekend. Apa yang mungkin saya pikirkan dulu? Mengapa tidak memilih universitas yang berjarak 1 jam dari rumah. Mungkin rasanya lebih hangat. Saya menelepon kerumah dan menceritakan pada mama betapa saya merindukan rumah. Menangis. Kadang saya berkumpul bersama teman teman 1 SMA saya yang juga diterima di ipb, tapi itu tak sebanding dengan kegelisahan saya disini.

Selang beberapa minggu, hari tanpa kegelisahan di awal pun berakhir, sebenarnya hal ini akan terjadi juga pada semua orang, cepat atau lambat. saya mengobrol bersama teman sekamar saya dita,vallin,lia, hampir setiap malam. Saya merasa ada yang menemani dan juga merasakan apa yang saya rasakan. Dita orang bogor, setiap saat bisa pulang. Saya, setiap minggu bisa pulang, vallin mungkin1 bulan sekali pulang. Tapi lia, entah kapan dia bisa pulang ke jambi, perjalanan darat yang ditempuh dengan mobil menghabiskan waktu lebih dari 2 hari. Saya salut dengannya. Ia enjoy menghadapi ini. Saya juga harus sekuat dia. Lama kelamaan rasa takut yang saya rasa di awal mulai menghilang.

Saya mungkin masih menangis samapi tertidur, karena merindukan orang-orang yang saya sayangi di jakarta, tapi ada yang berubah. Selama beberapa jam saya bisa menghilangkan khayalan ingin pulang. Selain karena saya sibuk memikirkan ujian, juga kerna sekarang ada yang mengerti dan bisa menemani saya.

Pada akhirnya, saat saya perlu mengangis (karena mungkin saya masih ingin, atau karena ada masalah) saya menemukan diri saya berada di tempat tidur vallin dan menghadap tempat tidur lia, bukannya menelepon mama. Mereka memberikan beberapa masukan untuk masalah yang Saya hadapi. saya menangis dan berpikiran gila (dita protes saat itu). Tapi yang saya ingat, mereka membuat lelucon yang dapat membuat saya tertawa, dan pada akhirnya kami berempat terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing dan memtuskan untu tidur dengan tenang.

Pada saat saya menelepon orang tua saya, yang saya ceritakan tidak lagi sepenuhnya masalah betapa saya merindukan mereka, tapi saya menceritakan tentang teman sekamar saya yang membuat kamar asrama ini lebih hidup. Betapa kami bersenang senang. Dan apa saja kegiatan saya di kampus.

Hingga pada suatu sore, jika kamu jadi saya, mungkin kamu akan mengatakan kepada teman sekamarmu “sudah nau pulang?” lalu kau akan menyadari bahwa kau merujuk pada asrama mu, tempat yang terasa begitu jelek pada minggu pertama. Tapi tak ada salahnya kan jika kata “pulang” pada kalimatmu itu berarti asrama?